PELAIHARI - Kepala Dinas Kehutanan Tanahlaut (Tala) Ir H Ahmad Hairin, MSi terus upayakan agar budidaya lebah madu di wilayah Tanahlaut berkembang. Menjadi sumber mata pencaharian unggul dan dapat menopang perekonomian masyarakat di Tala. "Budidaya lebah madu di Tanahlaut kita upayakan terus berkembang dan menjadi sumber mata pencaharian masyarakat. Dan kini sudah cukup bagus,"kata Harin, Senin (21/1) di Pelaihari.
Di Karang Taruna dan Telaga Langsat misalnya, petani budidaya lebah madu terus banjir pesanan. Bahkan hasil panen lebah madu jarang sekali bisa tersimpan sebab madu itu sudah dipesan bahkan ada yang sudah nayar duluan.
Yang terpenting saat ini lanjut Kepala Dinas Kehutanan tersebut kualitas kemasan seperti botol untuk tempat madu akan terus kita perbaiki agar mampu menjadi daya tarik pembeli. "Itu rencana kita kedepan, sebab tidak menutup kemungkinan petani lebah madu akan terus berkembang,"katanya.
Kalau saat ini budidaya lebah madu terdapat di Kelurahan Karang Taruna, Telaga Langsat dan wilayah Batu Ampar.
Di wilayah itu sudah bisa panen dan menghasilkan madu dari hasil budidaya.
Kedepan lebih lanjut Hairin menjelaskan, budidaya lebah ini bisa berkembang di Tala jika berupa makanan lebah ini tersediah. Makanya bersama petani lebah, penyuluh pertanian akan terus berdiskusi bagaimana supaya makanan lebah ini bisa tersediah. Salah satunya bagaimana agar pohon kaliandra yang menjadi makanan utama lebah madu tersedia. "Kita akan terus mencari soslusi agar makan lebah seperti pohon kaliandra ini tersedia, supaya madu juga betah di stupnya,"katanya.
Terpisah Harjono pelaku budidaya lebah madu di Kelurahan Karang Taruna Kecapatan Pelaihari, hasil budidaya lebah madu cukup baik. Dimana harga madu lebah tersebut cukup tinggi. Setiap botolnya berukuran 600 mililiter, dibandrol dengan harga Rp 100 ribu di tingkat petani dengan kemasan yang masih sederhana.
Sebanyak sembilan kotak sarang lebah berdiri di belakang rumahnya. Kotak kayu berukuran sekitar 40X40 sentimeter itu ditempatkan di antara pohon kelapa dan pohon bunga kaliandra yang menjadi makanan utama lebah tersebut.
Serupa juga dilakukan warga lainnya, Edi Purwanto. Bapak satu anak itu justru lebih dulu menekuni budidaya lebah madu di kampung itu. Hal itu berawal dari kegelisahan yang menggelayuti benaknya selama ini. “Selama ini berbagai kegiatan justru lebih banyak membahas soal khasiat madu, bukan cara budidaya,” katanya.
Dengan modal 12 kotak yang menjadi kandang lebah itu, cukup menghasilkan uang yang bisa menambah untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari.
Karena mengelola lebah tidak terlalu banyak memerlukan waktu, cukup mengontrolnya minimal empat hari sekali dengan masa panen sekitar 1,5 bulan hingga dua bulan sekali.
Jika musim panen, setiap kotaknya bisa menghasilkan madu dua botol hingga 2,5 botol yang volumenya 600 mililiter. Rata-rata setiap botolnya madu tersebut dibandrol dengan harga Rp 100 ribu.can
Rabu, 23 Januari 2013
Budidaya lebah Madu Bakal Terus Berkembangkan
Posted by lenterakalimantan.com on 16.47.00 in Lokal News | Comments : 0
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)

Posting Komentar